News Camp Dimensi

http://www.4shared.com/office/y_aRXINHba/nc_edisi_2.html

Dipublikasi di JURNALISTIK | Meninggalkan komentar

Kualitas Musik Indonesia Terpasung di Rumah Sendiri

Kualitas Musik Indonesia Terpasung di Rumah Sendiri

Oleh : Kholisul Fatikhin
Populernya gangnam style, kemudian musik-musik korea yang sejenisnya. Belum lagi film-film serta produk-produk lain dari negeri gingseng, menjadi sangat populer di mata masyarakat, dan menjadi hal yang paling digandrungi oleh para pemuda pemudi. Hal tersebut memunculkan sebuah asumsi, bukan bermaksud untuk mengeneralisasi secara dangkal. Akan tetapi ini dimaknai sebagai indikasi bahwa kualitas dunia hiburan tanah air mengalami kemunduran dalam hal kualitas, sehingga dengan gampangnya produk dari luar digandrungi oleh anak bangsa. Dunia hiburan indonesia belum bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Berbicara mengenai dunia hiburan tanah air, secara umum itu adalah salah satu bentuk dari produk anak bangsa. Wacana yang berkembang, produk anak bangsa menjadi sektor yang paling digemborkan untuk kita cintai, kita banggakan dan lain sebagainya. Namun bila kita menengok beberapa dekade sebelumnya, dunia hiburan indonesia memang sangat mengesankan. Dapat dilihat dari tertariknya negara tetangga terhadap musik-musik indonesia. Misal, lagu bengawan solo yang dirubah bahasa demi bisa dinikmati oleh masyarakat jepang, kemudian berjayanya band-band tanah air di negeri jiran. Sekarang, itu semua hanya romantisme belaka.
Permasalahan yang kemudian dibahas disini, yaitu mengenai menurunnya selera publik terhadap musik-musik karya anak bangsa. Faktornya jelas, gagal bersaingnya musik indonesia secara kualitatif dengan musik impor yang datang ke indonesia. Selain itu banyak pegiat musik yang bukan menjual kualitas, tapi hanya menjual hal-hal lain seperti tampang ganteng atau cantik. Menjadikan musik sebagai mata pencaharian, musisi menyesuaikan selera musik pada tren pasar demi profit saja. Walaupun pada dasarnya, indikasi kepopuleran itu diukur dari banyak tidaknya penikmat. Music karya anak bangsa terpasung di rumah sendiri, tak mampu keluar untuk menujukan kualitasnya di ranah global.
Setidaknya ini menjadi akar refleksi untuk kita sebagai bangsa, khususnya disini saya sebagai penikmat musik agar senantiasa mentendensikan pilihan kita pada produk musik tanah air. Mengenai produk impor yang tak bisa kita hindari, sebab zaman serba teknologi ini membuat musykil kita untuk menghindar. Tak perlu alergi apalagi memaki.
Kondisi permusikan dari musisi tanah air belum mampu keluar dari terma pasar industri. Sekedar guyonan, ketika pada periode 80-an, menteri penerangan melarang lagu-lagu berlirik mellow. Salah satunya lagu pulangkan saja milik betharia sonata, sebab khawatir akan menimbulkan banyak kasus perceraian. Melihat sejarah yang lebih usang, bagaimana music bisa menjadikan stimulus dilihat ketika lagu Indonesia raya berkumandang, lirik yang progresif membakar semangat untuk memerdekakan tanah air menjadi lebih kuat.
Hal yang menjadi sangat urgen berikutnya adalah peran media nasional dalam mengawal keberjalanan kualitas music. Media hari ini terbawa arus, dan terkesan jumud dalam mengcover perkembangan music. Asal kan bisa menarik public dan mendapatkan rating paling atas, mengabaikan format acara yang lebih apresiatif dan kritis, malah-malah acara tersebut diafiliasi dengan kabar gossip artis yang tak berguna. Kita lihat saja ada berapa format acara untuk mengapresiasi kualitas music, bisa dihitung dengan jari.
Bergantungnya sandaran permusikan pada selera pasar tersebut, mereduksi kualitas musik para musisi. Selain itu menjamurnya musisi-musisi dengan kualitas tak seberapa, asal sesuai dengan tuntutan pasar. Andai harmoko masih menjadi menjadi menteri penerangan, tak akan ada music dengan music mellow, serta lirik cengeng. Kita sebagai anak bangsa harus lebih selektif lagi untuk sekedar menerima kehadiran music di dunia hiburan. Apresiasi yang tinggi patut kita kedepankan, musisi yang memberikan sentuhan pada musiknya berupa lirik tentang masalah social, kemudian musikalitas aransemen yang dalam harusnya menjadikan itu sebagai pilihan.

Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

Sinkretisme Budaya dan Agama

Sinkretisme Budaya dan Agama
By; Hayin DẽDIKASI

Budaya menurut Koentjaraningrat diartikan dari bahasa Sansekerta, budhayah yang merupakan bentuk jamak dari budhi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan budhi atau akal”. Setiap negara bahkan daerah pasti mempunyai budayanya masing-masing sebagai suatu identitas.
Indonesia memiliki beragam budaya mulai dari sabang hingga merauke, salah satu yang kita kenal adalah budaya Jawa yang merupakan hasil akulturasi budaya asli pribumi jawa dengan agama Hindu-Budha. Bentuk kepercayaan animisme dan dinamisme tumbuh sejalan dengan berkembangnya pengaruh hindhu budha pada saat itu. Sangat kentalnya pengaruh budaya jawa hingga sampai zaman modern ini masih ada saja masyarakat jawa yang memiliki kepercayaan semacam itu. Dalam kehidupan sosialnya pula masyarakat jawa sangat memperhatikan tindak tanduk atau etika dalam berlaku. sehingga seorang di anggap belum jawa (jowo ora jawani) ketika dia belum mengerti tatanan sosial.
Jawanisme atau Kejawen menjadi istilah bagi orang Jawa yang memegang teguh sariat budayanya. Budaya Jawa akhirnya menjadi culture yang tetap terjaga keeksistensiannya hingga agama Islam masuk ke Indonesia dan menjadikan budaya sebagai metode penyebarannya. Wali songo menjadi salah satu tokoh penyebar islam di jawa yang memadukan budaya dan agama. Proses akulturasi yang berangsur-angsur sedemikian rupa membuat islam sebagai ajaran agama dan Jawa sebagai entitas budaya menyatu (.red). Pandangan hidup masyarakat jawa yang tepo sliro, dan penyebaran islam oleh Walisongo yang elastis dan akomodatif terhadap unsur-unsur lokal membuat peleburan dan perpaduan antara agama dan budaya berlangsung secara damai.
Seperti agenda kelahiran seorang anak, sebagai ucap syukur orang tua atas kelahiran seorang bayi dengan selamat, disariatkan dalam islam untuk melaksanakan aqiqah, dengan menyembelih seekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor kambing untuk laki-laki. Namun dalam prakteknya hanya sedikit masyarakat muslim jawa yang melakukan hal itu, dan menggantinya dengan upacara brokohan (diadakan setelah bayi lahir ke dunia in dengan selamat) dan sepasaran (ketika bayi berusia lima hari) dengan harapan dan doa pada sang khaliq. suatu bentu Sinkretisme budaya dan agama yang menghasilkan tranformasi sosial yang lebih baik.
Masyarakat jawa bisa legowo dengan masuknya budaya baru dilingkungannya berbentuk agama islam. Melalui persinggungan yang cantik, dimana masyarakat memiliki jati diri muslim lewat lingkungan dan simbol-simbol eduatif religius yang dimilikinya yang sejalan dengan itu mampu membentuk suatu harmonitas sosial. Adanya kemungkinan akulturasi timbal balik antara islam dengan budaya lokal jawa, dalam hukum islam secara metodologis sebagai sesuatu yang memungkinkan diakomodasi eksistensinya.
Hanya saja, tidak semua unsur budaya di jawa memiliki kesesuaian hukum dengan ajaran islam. Unsur-unsur budaya yang tidak sesuai di ganti atau disesuaikan dengan unsur dalam hukum islam. Sehingga dalam menyikapi setiap fenomena sosial yang menyangkut unsur jawa dan agama perlu adanya sikap kritis, tidak asal mengadopsi sebuah tradisi yang mana hal inilah yang memicu terjadinya transformasi sosial masyarakat yang bersinggungan dengan islam. dengan demikian, kedatangan islam selalu membawa perubahan masarakat atau peralihan bentuk sosial ke arah yang lebih baik. Sunan Kalijaga misalnya, yang menggunaan pewayangan dalam melakukan islamisasi pada zaman majapahit. Beliau menggunakan unsur lokal sebagai media dakwahnya dan melaukan perubahan lakon dan bentuk padafisi dari alatnya (.red).
Keberadaan islam di indonesia tidak terlepas dari history masuknya islam pertama kali di tanah jawa. Pada saat itu, masyarakat jawa masih berbentuk kerajaan yang menganut agama hindhu dan budha. Kepercayaan animisme dan dinamisme masih sangat kental pada waktu itu, hingga sampai islam melebur di dalamnya melalui dakwah para ulama’ wali songo.
Perpaduan budaya dan agama masyarakat jawa memunculkan 3 varian masyarakat islam di jawa (penelitian Greetz) yaitu abangan, santri dan priyayi. Abangan sebutan bagi orang jawa yang mengintegrasikan unsur-unsur animistik, hindu dan islam. Santri adalah istilah bagi orang islam yang taat pada ajaran-ajaran atau doktrin agama dan menjalankannya secara taat berdasarkan tuntunan yang diberikan agama. Sedangkan Priyayi merupakan kelompok yang mempunyai garis keturunan bangsawan atau darah biru, yakni mereka yang mempunyai kaitan langsung dengan raja-raja jawa dahulu (.red).
Ketiga varian terebut secara tak sadar merupakan bagian dari kehidupan sosial masarakat sekarang. Namun demikian, varian-varian dalam masarakat islam jawa tersebut bukanlah bentuk pengkelasan sosial di mayarakat. Adanya varian islam di jawa merupakan bentuk pelestarian budaya yang masih sangat terjaga keeksistensiennya oleh masarakat jawa itu sendiri. Hingga tak bisa dipungkiri pula sinkretisme antara budaya dan agama membawa kita ke dalam harmonisasi sosial masyarakat yang damai.

Dipublikasi di opini | Meninggalkan komentar

CICAK VS BUAYA JILID 2 DIMULAI

CICAK VS BUAYA JILID 2 DIMULAI
Dari :
Deeyah Dijje deeyaah92@yahoo.com
Di tengah berlangsungnya pengusutan kasus dugaan korupsi proyek pengadaan simulator SIM di Korps Lalu Lintas Polri, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mendapatkan ujian. Salah satu penyidiknya yang menangani kasus tersebut yakni Komisaris Novel Baswedan, ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penganiayaan berat oleh Kepolisian Daerah Bengkulu.
Kasus penganiayaan berat yang dikaitkan dengan Kompol Novel ini terbilang kasus lama. Pada 2004, menurut kepolisian, Novel diduga melakukan penganiayaan dengan menembak tersangka kasus pencurian sarang burung walet. Saat itu, Novel menjabat Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bengkulu. Lamanya selang waktu antara peristiwa dan penyidikan kepolisian yang baru dilakukan saat ini yang menimbulkan kecurigaan.
Pada Jum’at awal Oktober lalu, anggota Polda Bengkulu dibantu pasukan Polda Metro Jaya mendatangi Gedung KPK, di Kuningan, Jakarta Selatan untuk menangkap Novel. Mereka mengaku membawa surat penangkapan dan surat penggeledahan. Namun, menurut Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, surat penggeledahan yang dibawa pasukan Polda Bengkulu itu belum disertai izin pengadilan, bahkan belum ada nomor suratnya.
Menurut sumber berita, Juru Bicara KPK Johan Budi mengungkap kejanggalan-kejanggalan terkait penetapan Novel sebagai tersangka oleh Polda Bengkulu. Menurut Johan, tim investigasi KPK menemukan bahwa laporan masyarakat terhadap Novel baru dibuat Polda pada 1 Oktober 2012 atau empat hari sebelum Polda Bengkulu berupaya menangkap Novel. Surat laporan tersebut bernomor 1285/11/2012/SPKT.
Seperti diketahui, laporan inilah yang menjadi dasar kepolisian menyidik kasus dugaan penganiayaan yang dituduhkan ke Novel tersebut. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bengkulu Komisaris Besar Dedy Irianto sebelumnya mengatakan bahwa kasus delapan tahun yang menimpa Novel itu diusut karena ada laporan dari tersangka pencurian sarang burung walet yang menjadi korban.
Berbeda dengan hasil investigasi KPK. Menurut Kombes Dedy, laporan masyarakat tersebut masuk pada Agustus lalu. Johan juga mengungkapkan kejanggalan lain yang ditemukan tim investigasi KPK. Menurutnya, hingga kini belum ada uji balistik terhadap peluru yang dikaitkan dengan kasus dugaan penganiayaan oleh Novel tersebut. Selain itu, belum ada pemeriksaan menyeluruh terhadap saksi-saksi dan belum ada satu pun surat panggilan yang dialamatkan kepada Novel untuk diperiksa.
Secara terpisah, pihak Iwan Siregar yang diduga menjadi korban penembakan itu membantah jika dirinya disebut membuat laporan atas perbuatan Novel delapan tahun lalu. Pengacara korban, Yuliswan, mengatakan kalau yang dibuat pengacara atas nama korban ialah surat permohonan keadilan.
Surat yang dimaksud Yuliswan dibuat tanggal 21 September 2012. Surat bernomor 079/SP/A-YDR/09/2012 tersebut ditujukan kepada Kapolri. Surat sengaja ditujukan kepada Kapolri karena berdasarkan pengalaman selama ini, surat pengaduan kepada polisi, baik di tingkat polda maupun polres, jarang ditanggapi.
Yuliswan juga menyampaikan, surat permohonan keadilan dibuat saat ini, setelah delapan tahun peristiwa itu berlalu, karena salah seorang korban, Iwan Siregar, masih merasakan sakit di kakinya akibat ditembak polisi. Seandainya ada pelanggaran hukum yang dilakukan polisi ketika menangkap kliennya, ia menyerahkan sepenuhnya kepada polisi. Jika memang mau diusut siapa yang menembak kliennya, pihak korban merasa senang karena tidak tahu persis siapa yang menembaknya.
Beberapa hari setelah kedatangan anggota Polda Bengkulu, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto mengungkapkan, Kompol Novel pernah ditemui utusan Kapolri Timur Pradopo. Tepatnya, sehari sebelum insiden penggerudukan Gedung KPK oleh Polda Bengkulu pada 5 Oktober 2012.
Utusan Kapolri itu, menurutnya, meminta Novel menemui Kepala Satuan Reserse Kriminal Polri Yasin Fanani. Tujuan pertemuan adalah untuk membantu Novel melakukan konfirmasi atas teror dan kriminalisasi yang didapat Novel kepada Kapolri sebagai orang tua sekaligus pembahasan alih status 28 penyidik di KPK.
Saat itu, Novel menjawab bersedia menghadap sepanjang mendapatkan izin dari pimpinan KPK. Namun, pimpinan KPK yang ada hari itu, yakni Busyro Muqoddas, tidak mengizinkan Novel menemui Yasin.
Terkait kasus Novel ini, Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo mengaku tidak tahu adanya upaya penangkapan terhadap Novel oleh anggota Polda Bengkulu yang menggeruduk Gedung KPK pada Jumat malam itu. Atas instruksi Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Kapolri pun memerintahkan anggota Polda Bengkulu yang dibantu Polda Metro Jaya itu meninggalkan Gedung KPK.
Informasi yang didapatkan, sehari sebelum pengepungan di kantor KPK itu, Kapolri melakukan pertemuan dengan Kepala Badan Reserse Kriminal Komjen Sutarman dan Kadiv Propam Polri Irjen Budi Gunawan. Pertemuan tersebut diduga membahas rencana penangkapan Novel. Penangkapan sengaja dilakukan di Gedung KPK untuk memberikan pukulan kepada lembaga antikorupsi itu.
Polri harus menjawab sejumlah pertanyaan atas kasus Novel. Jika dirunut muncul sejumlah kecurigaan. Polda Bengkulu telah menyampaikan kepada publik foto peluru yang mengenai korban. Akan tetapi, tidak ada foto yang memperlihatkan Komisaris Novel Baswedan melakukan penembakan. Foto atas korban yang terkena peluru yang disampaikan oleh Polda Bengkulu tidak menjawab dan menjadi bukti bahwa Kompol Novel yang melakukan penembakan. Karena menurut pihak KPK saat itu Kompol Novel Baswedan tidak berada di tempat kejadian. Dia hanya memerintahkan bawahannya untuk mengamankan pelaku pencurian sarang burung walet dari amukan massa.
Pertanyaan lain pun muncul, mengapa waktu proses hukum atas Kompol Novel baru dilakukan sekarang, delapan tahun setelah kejadian, dan bertepatan dengan proses hukum Jenderal DS (Djoko Susilo).
Polri juga harus menjelaskan mengapa merekomendasikan Novel sebagai penyidik KPK jika mengetahui yang bersangkutan terlibat tindak kriminal. Bahkan, Novel telah beberapa kali mengalami kenaikan pangkat.
Semua pertanyaan ini belum terjawab dengan baik oleh pihak-pihak yang berwenang di Polri. Bahkan, sejumlah jawaban justru menimbulkan pertanyaan baru dengan sejumlah kecurigaan.
Benarkah ada skenario tertentu di balik penetapan Novel sebagai tersangka dan upaya penangkapannya?

Dipublikasi di gambar | Meninggalkan komentar

PENDIDIKAN (SEKRANG) SUDAH RELEVANKAH???

PENDIDIKAN (SEKRANG) SUDAH RELEVANKAH???

Oleh : M.Ilham Mustofa

LPM DIMëNSI

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. ( UU Sis DIk Nas 2003)

Sangatlah luhur memang jika kita dapat memaknai arti diatas, dan jika hal yang diinginkan atau tujuan dari pada pendidikian benar-benar bisa tercapai, mungkin negara  kita akan semakin maju, dan lebih baik lagi, bukan hanya itu mungkin juga permasalhan-permaslah yang selama ini menyelimuti negara kita mungkin akan terpecahkan, dan masih banyak lagi memberikan dampak positif ketika pendidikan di negara kita tujuannya dapat tercapai dengan penuh.

Pendidikan merupakan suatu hal yang penting bagi kehidupan manusia. Karena pada dasarnya pendidikan merupakan hal melekat pada manusia. Manusia diciptakan dengan disertai kemampuan istimewa yakni ‘akal’ atau ‘fikiran’. Sehingga dari sinilah pendidikan telah ternanam dalam diri manusia dan kemudian tumbuh-tumbuh dan berkembang menjadi sebuah fase atau bagian dalam kehidupan manusia. Namun sangking istimewanya pendidikan, sehingga pendidikan pun juga mempunyai banyak permasalahan yang selalu menghadang. Sehingga dalam jalanya pendidikan pun tidak bisa optimal dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Dalam pengertianya pendidikan di Indonesia telah diterangkan dalam Undang-undangSistem pendidikakan Nasional tahun 2003( Sis Dik Nas) Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan seharusnya dapat diposisikan atau diprioritaskan lebih utama, agar nantinya dapat menjalankan peran dan fungsi pendidikan sebagaimana mestinya sehingga masyarakat mampu mengapliksikan pendidikan yang telah diperoleh kedalam kehidupan sehari-hari. Dan tentunya manfaat dari pendidikan akan lebih meluas lagi terutama bagi negara jika dalam perwujudanya pendidikan sebagai eksisitensi negara. Namun luhurnya hakikat dan tujuan pendidikan ternyata berbanding terbalik 180 drajat bila kita melihat realita yang ada sekarang. Pendidikan yang seharusnya mencerdaskan masyarakat dengan pengetahuannya, malah menjadi momo karena permasalahan-permasalahan di dalam mejalankan pendidikan. Memang jika membanding perkembangan pendidikan di Indonesia selama ini sudah lebih baik tentunya jika dibandingkan masa-masa sebelum ini, bisa ambil contoh ketika masa orde baru, yang meneraplan system NKK/BKK nya, secara tidak langsung telah mencederai hakikat dan tujuan pendidikan itu sendiri. Nah untuk sekarang permasalahanya apa?, trus dampak dari permasalahan pendidikan yang seperti ini apa?, apakah sudah ada solusinya ?, bagaimana kita menyingkapi pendidikan yang seperti sekarang ini?. Untuk menjawab dari pertanyaan itu semua tentu tidaklah mudah, kita tidak hanya menganalisis kemudian memeberikan kritikan terhadap pendidikan yang ada namun juga memeberikan sebuah tawaran yang nantinya juga bisa membangun pendidikan kembali.

Pertama kita mencoba mengungkap permasalahan pendidikan, dimulai dari sisitem atau komponen-komponen dalam pendidikikan, disisni saya mengambil kurikulum pendidikan sebagai salah satu permasalahan yang dirasa memang patut untuk dianalisis dan dikritisi, kenapa kok, mengambil kurikulum karena kurikulum adalah suatu komponen dalam pendidikan yang berperan sebagai alat ukur dimana standarisasi pendidikan bisa berjalan, dan sesuai dengan tujuan pendidikan. Ketika kita telah tahu bahwa setiap tahun kurikulum pendidikan selalu direvisi dan diganti dengan kurikulum yang baru, dengan harapan agar bisa lebih relevan baik relevan kedalam maupun relevan keluar. Namun justru dengan ketidak konsisitensinya kurikulum yang ada ini memebuat sisitem pendidikan pun menjadi tak konsisten, karena selalu memeperbaiki kedalam tanpa melihat relevansinya ke luar, lebih-lebih ke masyarakat.  Kurikulum seharusnya lebih melihat konteks dilapangan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, dan seharusnya lebih aplikatif lagi. Sehingga tidak menimbulkan perspektif bahwa kurikulum seakan-akan hanya sebagai visi saja, dan hanya sebuah tujuan, tanpa ada tindakan yang continue, sehingga ketika ditengah jalan mengalami hambatan, tidak kok diselesaikan, malah diganti dengan yang baru, dengan harapan dengan harapan kurikulum yang baru dapat mengatasi masalah yang ada. Namun realitanya kurikulum yang baru malah semakin menambah permasalahan. kemudian  yang kena dampak dari permasalahan ini siapa ? pasti masyarakat sebagai pengguna atau konsumen daripada pendidikan yang disuguhkan oleh sitem, lebih jauh lagi berbicara soal dampak tentunya masyarakat akan merasa bahwa pendidikan semakin memeprsulit sistemnya dan tanpa memeberikan suatu jawaban dari permasalahan yang dialami masyarakat. Yang lebih ditakutkan lagi ketika perspektif masyarakat terhadap pentingnya pendidikan mulai luntur, dan memilih untuk tidak perlu berpendidikan lagi. Ironis memang jika masyarakat sudah tidak percaya lagi terhadap luhurnya pendidikan, mungkin masyarakat akan memilih bekerja sebagai buruh atau pekerja kasar yang hanya mengandalkan kekuatan otot, karena secara kualitas akal mereka tidak punya kecerdasan untuk bekerja menggunakan akalnya yang dapat mengeluarkan kreatifitas dan inovasi baru.

Mungkin untuk berbicara solusi kita tidak akan bisa mengubah suatu tatanan yang ada namun setidaknya kita mempunyai semangat untuk membawa apendidikan sampai pada taraf yang berkualiatas dan menjalankan peran, fungsi dan tujuan pendidikan. Dengan cara apa kita memebawa pendidikan menjadi semakin maju? Untuk jawaban dari pertanyaan tersebut, kita harus mentranformasikan pendidikan dengan seoptimal mungkin, kita harus benar-benar mandiri dengan sadar bahw kita sangatlah butuh pendidikan, dehingga kita bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin itu sebuah tawaran yang sifatnya lebih kepada kesadarn masing-masing individu. Mengingat kesadaran dalam pendidikan benar-benar penting,sehingga itu akan bermanfaat bagi si individu yang mau sadar akan pendidikan dan mentransformasikanya.

Memang jika kita ingin merubah pendidikan yang ada, agar menjadi lebih baik, kita membutuhkan waktu yang lumayan lama, sebab kita tidak bisa serta-merta mengubah pendidikan yang ada. Namun bila permasalahan-permasalahn dalam pendidikan tidak segera dicari solusinya maka akibatnya pendidikan semakin terperosok kedalm masalah yang lebih mendalam dan lebih lagi akan semakin sulit diselesaikan.

Diatas memang sebagian contoh kecil dalam pendidikan kita sekarang ini kalau kita sudah tahu masalah yang sedemikian rupa maka kita harus apa…??????

Dipublikasi di opini | Meninggalkan komentar

ALIRAN INI

ALIRAN INI

Melihat desiran arus sungai kecil yang mengalir, membuatku duduk termenung dan memikirkan sesuatu tentang hidupku. Sungai ini menjadi sumber kehidupan bagi setiap makhluk Tuhan, akankah aku hidup seperti sungai, yang dari atas terus mengalir turun sampai berakhir di laut dan menjadi sama dengan air-air dari mata air lain. Akankah aku hidup seperti itu, bagai aku yang punya hal terbaik di dunia dan membiarkannya pergi dan berakhir seperti pecundang-pecundang lain di bumi ini. Atau air yang keluar dari mata air terbaik yang jernih di hulu dan mengalir terus mengalir melewati berbagai macam hal dan akhirnya berakhir menjadi sungai yang keruh di hilirnya. Aku yang hidup,tumbuh hanya menjalani kehidupan tanpa tahu apa yang sudah kulalui dan akhirnya berakhir dengan kematian yang mungkin meninggalkan penyesalan, atau aku yang lahir, tumbuh,berkomunitas,terpengaruh buruknya pergaulan yang tidak bisa aku menolaknya dan menjadi kotor dan tidak suci saat aku mati menghadap Tuhanku.

Banyak yang berkata jalani saja hidup seperti air mengalir, menjalani hidup dengan takdir yang sudah digariskan padaku. Apa aku yakin hanya ingin hidup seperti itu, hanya mengalir tidak punya tujuan untuk hidupku sendiri, hanya lari dari masalah.Sebersit pikiranku, jika aku ingin hidup layaknya sungai, maka harus menjadi arus sungai yang mengalir di jalur yang terjal,berbatu,berliku. Meski melewati jalur yang tidak bersahabat tapi tetap dapat mengalir deras. Dengan melewati jalur terjal membuat air mengalir dengan deras, suara benturan air dengan batu terdengar dari jauh, bukti derasnya arus yang mengalir. Bagaikan melihat manusia yang menghadapi setiap masalah hidup yang ditemuinya dan akan selalu berusaha melewatinya. Arus sungai membawa air yang menjadikan tempat yang dilalui menjadi hidup dan dapat menjadi sumber kehidupan. Manusia yang menjadikan hidupnya berarti bagi orang yang disayangnya. Aliran sungai yang meski besar tapi tenang tidak akan orang tahu keberadaanya jika tidak melihatnya sendiri, tapi arus sungai yang kecil tapi terjal belum orang melihatnya tapi sudah dapat didengar suaranya dalam keterjalan jalurnya.Manusia akan diakui  dari perjuangannya dalam menjalani hidupnya.

Manusia, Bukan karena dia besar dia diakui tapi karena dia diakui, dia menjadi besar. Hidup bukan hanya tentang apa yang telah diraih ,tapi tentang bagaimana cara meraihnya. Berusaha membuat dirinya berarti,dengan itu keberadaannya diakui//Djiwa

Dipublikasi di opini | Meninggalkan komentar

Kelabu

Kelabu

Lamongan, 11 oktober 2012

By

izza expres

Kelabu,

Dulunya umur sepuluh sekarang dua puluh

Dia tinggalkan yang dulu

Sudah waktunya bercumpu

Kelabu,

Didapatnya seseorang yang hany asatu

Ditungginya tak jemu-jemu

Sampai waktunya bertemu

Kelabu,

Dirudung malu

Dentang jantung mendayu-dayu

Saat sedang menunggu

Kelabu,

Dua tahun tak  kunjung betemu

Dialaminya demam rindu

Sungguh begitu pilu

Kelabu,

Dirinya pilu

Desah sedih meramu

Semua waktunya dihabiskan untuk menunggu

Dipublikasi di puisi | Meninggalkan komentar