PARADOKS PEMAKNAAN GLOBALISASI DI INDONESIA

PARADOKS PEMAKNAAN GLOBALISASI DI INDONESIA
kholisul fatikhin
Sekdjen PPMI Dewan Kota tulungagung

Seiring dengan pesat, tanpa hambatan, globalisasi seperti mendapatkan legitimasi moral terhadap anak bangsa. Hari ini, tebok pertahanan yang dibangun sangat rapuh, akibatnya hegemoni itu hadir merasuk, mengakar pada semua elemen kehidupan masyarakat. Tak berdaya, hanya bisa menerima kemudian menjadikannya sebagai sebuah kemakluman. Jika keadaan retrogresif seperti ini terus berlanjut, maka proses menuju negara gagal (failed state) tak bisa dibendung.
Apakah ini sebenarnya karakter bangsa kita, selalu mengikuti arus tanpa punya celah untuk mununjukan siapa diri kita dan apa karakter kita. Sebagai bangsa yang terkonstruk sebagai bangsa pemberontak, sebab kita selama beberapa abad ke belakang bangsa kita diwarnai oleh ekspansi kolonialisme, kita tak semestinya diam, atau merasa naif dengan keadaan. Merujuk pendapat al-ghazali, bahwa ada empat (4) tipe manusia, salah satunya yaitu “orang yang tidak tahu, dan dia juga tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu”.
Nah, secara kontekstual masyarakat indonesia diguncang dilema bahwa gobalisasi yang merupakan produk barat tersebut sudah menghegemoni, namun tiada pernah disadari. Globalisasi datang sebagai sesuatu yang tak terelakan, bagaikan matahari yang terbit dari timur, dipuji ataupun dimaki, globalisasi tetaplah hadir. Tinggal, bagaimana membangun sistem untuk sekedar menjinakkannya.
Kaum Muda Satu Dimensi dan Peran Mahainstansi
Saat ini, waktu dimana terbata-bata nya masyarakat akan globalisasi. Memprihatinkan, jika ekspansi globalisasi meresap ke karakter pemuda bangsa. Kita coba realistis saja lah, pandangan hidup instanisme, hedonisme, konsumerisme, pasti ada walau tak semua pemuda mengalaminya. Kalau pun tak semuanya seperti itu, pasti hanya minoritas. Hal ini pun sejalan dengan buku dari David Haris yang berjudul from class struggle to the politics of pleasure (1992), bahwa kaum muda adalah korban dari industri kebudayaan yang konsumeristik. Selain itu dampak yang mungkin terasa, yaitu stigma binary opposition akibat konstruksi pemikiran liberal yang selalu membagi dua hal menjadi sesuatu yang bertentangan. Contoh sederhana, pemaknaan terhadap kota dan desa, modern dan tradisional.
Melihat kondisi yang semacam demikian, sangat kontradiktif dengan kondisi pemuda pada beberapa dekade yang lalu. Menurut benedict R O ‘G Anderson bahwa pemuda merupakan kekuatan politik yang paling menonjol pada masa revolusi menjelang dan setelah kemerdekaan. Demikian juga pada masa-masa transisi urgen perpolitikan tahun 1966 dan tahun 1998. Kaum muda merupakan kekuatan yang menentukan.
Bukannya ingin bersikap skeptis atau men-judge pihak terkait. Dengan situasi yang menjadi kompleks ini, pihak yang mau tak mau harus bertanggung jawab adalah negara. Setelah kita mengetahui, kuatnya globalisasi lalu pertanyaannya adalah apa yang harus kita lakukan, khususnya apa yang harus dilakukan negara. Kalau hanya diam, memaklumi itu semua, apa bedanya seperti hal nya kerbau. Gerakan perubahan tentu mutlak harus dilakukan, namun musykil proyek perubahan berlangsung massif tanpa memperhitungkan eksistensi Negara. Ingat, kita juga harus mempunyai prinsip, bahwa globalisasi bisa dijinakkan, asal kita mempunyai sistem yang tegas serta akurat, kemudian condong ke arah kemajuan bangsa secara komprehensif.

Pos ini dipublikasikan di artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s