Kualitas Musik Indonesia Terpasung di Rumah Sendiri

Kualitas Musik Indonesia Terpasung di Rumah Sendiri

Oleh : Kholisul Fatikhin
Populernya gangnam style, kemudian musik-musik korea yang sejenisnya. Belum lagi film-film serta produk-produk lain dari negeri gingseng, menjadi sangat populer di mata masyarakat, dan menjadi hal yang paling digandrungi oleh para pemuda pemudi. Hal tersebut memunculkan sebuah asumsi, bukan bermaksud untuk mengeneralisasi secara dangkal. Akan tetapi ini dimaknai sebagai indikasi bahwa kualitas dunia hiburan tanah air mengalami kemunduran dalam hal kualitas, sehingga dengan gampangnya produk dari luar digandrungi oleh anak bangsa. Dunia hiburan indonesia belum bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Berbicara mengenai dunia hiburan tanah air, secara umum itu adalah salah satu bentuk dari produk anak bangsa. Wacana yang berkembang, produk anak bangsa menjadi sektor yang paling digemborkan untuk kita cintai, kita banggakan dan lain sebagainya. Namun bila kita menengok beberapa dekade sebelumnya, dunia hiburan indonesia memang sangat mengesankan. Dapat dilihat dari tertariknya negara tetangga terhadap musik-musik indonesia. Misal, lagu bengawan solo yang dirubah bahasa demi bisa dinikmati oleh masyarakat jepang, kemudian berjayanya band-band tanah air di negeri jiran. Sekarang, itu semua hanya romantisme belaka.
Permasalahan yang kemudian dibahas disini, yaitu mengenai menurunnya selera publik terhadap musik-musik karya anak bangsa. Faktornya jelas, gagal bersaingnya musik indonesia secara kualitatif dengan musik impor yang datang ke indonesia. Selain itu banyak pegiat musik yang bukan menjual kualitas, tapi hanya menjual hal-hal lain seperti tampang ganteng atau cantik. Menjadikan musik sebagai mata pencaharian, musisi menyesuaikan selera musik pada tren pasar demi profit saja. Walaupun pada dasarnya, indikasi kepopuleran itu diukur dari banyak tidaknya penikmat. Music karya anak bangsa terpasung di rumah sendiri, tak mampu keluar untuk menujukan kualitasnya di ranah global.
Setidaknya ini menjadi akar refleksi untuk kita sebagai bangsa, khususnya disini saya sebagai penikmat musik agar senantiasa mentendensikan pilihan kita pada produk musik tanah air. Mengenai produk impor yang tak bisa kita hindari, sebab zaman serba teknologi ini membuat musykil kita untuk menghindar. Tak perlu alergi apalagi memaki.
Kondisi permusikan dari musisi tanah air belum mampu keluar dari terma pasar industri. Sekedar guyonan, ketika pada periode 80-an, menteri penerangan melarang lagu-lagu berlirik mellow. Salah satunya lagu pulangkan saja milik betharia sonata, sebab khawatir akan menimbulkan banyak kasus perceraian. Melihat sejarah yang lebih usang, bagaimana music bisa menjadikan stimulus dilihat ketika lagu Indonesia raya berkumandang, lirik yang progresif membakar semangat untuk memerdekakan tanah air menjadi lebih kuat.
Hal yang menjadi sangat urgen berikutnya adalah peran media nasional dalam mengawal keberjalanan kualitas music. Media hari ini terbawa arus, dan terkesan jumud dalam mengcover perkembangan music. Asal kan bisa menarik public dan mendapatkan rating paling atas, mengabaikan format acara yang lebih apresiatif dan kritis, malah-malah acara tersebut diafiliasi dengan kabar gossip artis yang tak berguna. Kita lihat saja ada berapa format acara untuk mengapresiasi kualitas music, bisa dihitung dengan jari.
Bergantungnya sandaran permusikan pada selera pasar tersebut, mereduksi kualitas musik para musisi. Selain itu menjamurnya musisi-musisi dengan kualitas tak seberapa, asal sesuai dengan tuntutan pasar. Andai harmoko masih menjadi menjadi menteri penerangan, tak akan ada music dengan music mellow, serta lirik cengeng. Kita sebagai anak bangsa harus lebih selektif lagi untuk sekedar menerima kehadiran music di dunia hiburan. Apresiasi yang tinggi patut kita kedepankan, musisi yang memberikan sentuhan pada musiknya berupa lirik tentang masalah social, kemudian musikalitas aransemen yang dalam harusnya menjadikan itu sebagai pilihan.

Pos ini dipublikasikan di artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s