Sinkretisme Budaya dan Agama

Sinkretisme Budaya dan Agama
By; Hayin DẽDIKASI

Budaya menurut Koentjaraningrat diartikan dari bahasa Sansekerta, budhayah yang merupakan bentuk jamak dari budhi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan budhi atau akal”. Setiap negara bahkan daerah pasti mempunyai budayanya masing-masing sebagai suatu identitas.
Indonesia memiliki beragam budaya mulai dari sabang hingga merauke, salah satu yang kita kenal adalah budaya Jawa yang merupakan hasil akulturasi budaya asli pribumi jawa dengan agama Hindu-Budha. Bentuk kepercayaan animisme dan dinamisme tumbuh sejalan dengan berkembangnya pengaruh hindhu budha pada saat itu. Sangat kentalnya pengaruh budaya jawa hingga sampai zaman modern ini masih ada saja masyarakat jawa yang memiliki kepercayaan semacam itu. Dalam kehidupan sosialnya pula masyarakat jawa sangat memperhatikan tindak tanduk atau etika dalam berlaku. sehingga seorang di anggap belum jawa (jowo ora jawani) ketika dia belum mengerti tatanan sosial.
Jawanisme atau Kejawen menjadi istilah bagi orang Jawa yang memegang teguh sariat budayanya. Budaya Jawa akhirnya menjadi culture yang tetap terjaga keeksistensiannya hingga agama Islam masuk ke Indonesia dan menjadikan budaya sebagai metode penyebarannya. Wali songo menjadi salah satu tokoh penyebar islam di jawa yang memadukan budaya dan agama. Proses akulturasi yang berangsur-angsur sedemikian rupa membuat islam sebagai ajaran agama dan Jawa sebagai entitas budaya menyatu (.red). Pandangan hidup masyarakat jawa yang tepo sliro, dan penyebaran islam oleh Walisongo yang elastis dan akomodatif terhadap unsur-unsur lokal membuat peleburan dan perpaduan antara agama dan budaya berlangsung secara damai.
Seperti agenda kelahiran seorang anak, sebagai ucap syukur orang tua atas kelahiran seorang bayi dengan selamat, disariatkan dalam islam untuk melaksanakan aqiqah, dengan menyembelih seekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor kambing untuk laki-laki. Namun dalam prakteknya hanya sedikit masyarakat muslim jawa yang melakukan hal itu, dan menggantinya dengan upacara brokohan (diadakan setelah bayi lahir ke dunia in dengan selamat) dan sepasaran (ketika bayi berusia lima hari) dengan harapan dan doa pada sang khaliq. suatu bentu Sinkretisme budaya dan agama yang menghasilkan tranformasi sosial yang lebih baik.
Masyarakat jawa bisa legowo dengan masuknya budaya baru dilingkungannya berbentuk agama islam. Melalui persinggungan yang cantik, dimana masyarakat memiliki jati diri muslim lewat lingkungan dan simbol-simbol eduatif religius yang dimilikinya yang sejalan dengan itu mampu membentuk suatu harmonitas sosial. Adanya kemungkinan akulturasi timbal balik antara islam dengan budaya lokal jawa, dalam hukum islam secara metodologis sebagai sesuatu yang memungkinkan diakomodasi eksistensinya.
Hanya saja, tidak semua unsur budaya di jawa memiliki kesesuaian hukum dengan ajaran islam. Unsur-unsur budaya yang tidak sesuai di ganti atau disesuaikan dengan unsur dalam hukum islam. Sehingga dalam menyikapi setiap fenomena sosial yang menyangkut unsur jawa dan agama perlu adanya sikap kritis, tidak asal mengadopsi sebuah tradisi yang mana hal inilah yang memicu terjadinya transformasi sosial masyarakat yang bersinggungan dengan islam. dengan demikian, kedatangan islam selalu membawa perubahan masarakat atau peralihan bentuk sosial ke arah yang lebih baik. Sunan Kalijaga misalnya, yang menggunaan pewayangan dalam melakukan islamisasi pada zaman majapahit. Beliau menggunakan unsur lokal sebagai media dakwahnya dan melaukan perubahan lakon dan bentuk padafisi dari alatnya (.red).
Keberadaan islam di indonesia tidak terlepas dari history masuknya islam pertama kali di tanah jawa. Pada saat itu, masyarakat jawa masih berbentuk kerajaan yang menganut agama hindhu dan budha. Kepercayaan animisme dan dinamisme masih sangat kental pada waktu itu, hingga sampai islam melebur di dalamnya melalui dakwah para ulama’ wali songo.
Perpaduan budaya dan agama masyarakat jawa memunculkan 3 varian masyarakat islam di jawa (penelitian Greetz) yaitu abangan, santri dan priyayi. Abangan sebutan bagi orang jawa yang mengintegrasikan unsur-unsur animistik, hindu dan islam. Santri adalah istilah bagi orang islam yang taat pada ajaran-ajaran atau doktrin agama dan menjalankannya secara taat berdasarkan tuntunan yang diberikan agama. Sedangkan Priyayi merupakan kelompok yang mempunyai garis keturunan bangsawan atau darah biru, yakni mereka yang mempunyai kaitan langsung dengan raja-raja jawa dahulu (.red).
Ketiga varian terebut secara tak sadar merupakan bagian dari kehidupan sosial masarakat sekarang. Namun demikian, varian-varian dalam masarakat islam jawa tersebut bukanlah bentuk pengkelasan sosial di mayarakat. Adanya varian islam di jawa merupakan bentuk pelestarian budaya yang masih sangat terjaga keeksistensiennya oleh masarakat jawa itu sendiri. Hingga tak bisa dipungkiri pula sinkretisme antara budaya dan agama membawa kita ke dalam harmonisasi sosial masyarakat yang damai.

Pos ini dipublikasikan di opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s